RESPONSIVE.KALBAR,PONTIANAK-dr.Harisson, M.Kes.,tak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan membawanya dari seorang dokter yang bertugas di pedalaman Kalimantan Barat menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Barat, jabatan aparatur sipil negara (ASN) tertinggi di tingkat provinsi.
“Ini berkat doa yang tulus dari masyarakat yang pernah saya layani ketika saya melaksanakan tugas sebagai dokter di pedalaman Kalimantan Barat,” kata Harisson saat ditemui di rumah dinasnya di Pontianak, belum lama ini.
Bagi Harisson, jabatan yang kini diembannya bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal. Ia mengawali karier sebagai dokter lulusan Universitas Sriwijaya pada 1992, kemudian memilih mengabdi di Kalimantan Barat, wilayah yang kala itu masih kekurangan tenaga kesehatan.
Ia pernah menjadi dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Telok Batang, Kabupaten Ketapang, melayani masyarakat hingga ke pulau-pulau terluar melalui program dokter terapung dan dokter terbang.
Di masa itu, keterbatasan menjadi bagian dari keseharian.
Harisson mengaku pernah menyetir ambulans sendiri pada tengah malam untuk merujuk pasien ke Rumah Sakit Ketapang. Ia juga harus menginap di kampung-kampung terpencil, menumpang kapal kayu, berjalan kaki, hingga pulang menggunakan truk perusahaan kayu karena pesawat penjemput tidak datang.
“Pelayanan diberikan gratis. Kadang masyarakat membalas dengan telur ayam kampung, sayuran, atau ayam sebagai tanda terima kasih. Itu yang paling berkesan,” ujarnya.
Pengabdian di Tengah Keterbatasan
Menurut Harisson, tantangan terbesar saat bertugas di pedalaman bukan hanya minimnya fasilitas kesehatan, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat.
Banyak pasien yang seharusnya dirujuk ke rumah sakit memilih tetap dirawat di puskesmas karena tidak memiliki biaya.
“Kami tetap merawat dengan kemampuan yang ada. Kadang pasien tidak bisa diselamatkan. Saat itu jaminan kesehatan belum sebaik sekarang,” katanya.
Selain bertugas sebagai dokter, Harisson juga aktif membina Posyandu. Pada 1997, salah satu balita binaannya meraih Juara I Lomba Balita Sehat Tingkat Nasional dan diterima Wakil Presiden Try Sutrisno di Jakarta.
Meniti Karier Birokrasi
Usai menjadi dokter PTT, Harisson diangkat sebagai CPNS dan bertugas di Kabupaten Kapuas Hulu. Di daerah itu ia pernah menjadi Direktur RSUD dr. A. Diponegoro Putussibau sebelum dipercaya menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu.
Kariernya terus menanjak.
Pada 2019, Harisson lolos sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat setelah meraih peringkat pertama dalam seleksi terbuka.
Dua tahun kemudian, ia kembali meraih peringkat pertama dalam seleksi Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Setelah melalui proses Tim Penilai Akhir, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Sekda Kalbar.
Ia kemudian dipercaya menjabat Penjabat Gubernur Kalimantan Barat selama sekitar satu tahun tujuh bulan.
“Saya tidak pernah berkampanye atau mengeluarkan biaya untuk menjadi gubernur. Saya hanya bekerja. Mungkin hubungan baik yang selama ini dibangun membuat saya dipercaya,” ujarnya sambil tersenyum.
Kritik untuk Birokrasi
Di balik kisah kariernya, Harisson menilai birokrasi masih menghadapi tantangan besar.
Ia mengatakan masih ada sebagian kecil ASN yang bekerja sekadar menjalankan rutinitas tanpa memahami tujuan pelayanan publik.
“Kelompok kecil yang bekerja asal jadi justru bisa menghambat keberhasilan program pemerintah,” katanya.
Menurut dia, setiap kebijakan pemerintah telah memiliki aturan dan pedoman yang harus dipatuhi. ASN yang mengabaikan prosedur tidak hanya berisiko menggagalkan program, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan hukum.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat kini semakin kritis terhadap penggunaan anggaran negara.
“Masyarakat sekarang bertanya, uang kami digunakan untuk apa. Mereka menuntut pelayanan yang baik, transparansi, dan hasil pembangunan yang benar-benar dirasakan.”
Karena itu, Harisson menegaskan bahwa masyarakat harus diposisikan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek penerima program.
“Jangan membuat program berdasarkan asumsi pemerintah sendiri. Libatkan masyarakat karena merekalah yang paling tahu kebutuhannya.”
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir perbincangan, Harisson mengaku selalu menyampaikan pesan yang sama kepada dokter-dokter muda maupun generasi penerus ASN.
Menurutnya, jabatan bukanlah tujuan utama, melainkan konsekuensi dari pengabdian.
“Apapun profesi kalian, berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Tingkatkan kompetensi, bekerja dengan prestasi, dan jangan pernah berhenti berbuat baik. Saya percaya setiap kebaikan akan kembali kepada kita, mungkin melalui jalan yang tidak pernah kita duga.“*(Ok)**
Sumber : dr.Harisson






