Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

MabesTNI:Cek Kesiapan Karhutla di PT NJP,Cadangan Air Jadi Titik Lemah

Kegiatan di PT NJP diisi dengan sambutan, diskusi, foto bersama, dan ramah tamah. Seluruh rangkaian berlangsung aman dan lancar.

Laksma TNI F. Situmeang mengatakan kunjungan dilakukan untuk melihat langsung situasi lapangan, memperkuat koordinasi, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang harus ditindaklanjuti dalam pencegahan dan penanganan Karhutla.

RESPONSIVEKALBAR.COM,KUBU RAYAApi belum terlihat, tetapi alarm kewaspadaan sudah berbunyi. Tim Markas Besar TNI turun langsung ke PT Nusantara Jaya Perkasa (NJP), Desa Madusari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Senin, 31 Agustus 2026. Kunjungan itu bukan sekadar anjangsana. Kesiapan perusahaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu pokok pembahasan.

Tim Mabes TNI dipimpin Laksma TNI F. Situmeang. Sekitar 25 orang mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Pabung Kodim 1207/Pontianak Letkol Inf Mukalil beserta jajaran dan manajemen PT NJP.

Dalam diskusi, persoalan klasik penanganan Karhutla kembali muncul: air.

Manajemen PT NJP menyampaikan kebutuhan peningkatan kapasitas tampungan air sebagai langkah menghadapi musim kemarau. Persoalan ini penting karena kemampuan memadamkan api sangat bergantung pada seberapa cepat sumber air dapat digunakan ketika titik api ditemukan.

Kunjungan Tim Mabes TNI menjadi kesempatan untuk melihat apakah kesiapsiagaan yang selama ini disampaikan perusahaan benar-benar sejalan dengan kondisi di lapangan.

Laksma TNI F. Situmeang mengatakan kunjungan dilakukan untuk melihat langsung situasi lapangan, memperkuat koordinasi, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang harus ditindaklanjuti dalam pencegahan dan penanganan Karhutla.

Di atas kertas, langkah tersebut terdengar sederhana. Tetapi Karhutla tidak bekerja seperti agenda rapat.

Api dapat bergerak cepat. Ketika sumber air terbatas atau sarana pemadaman tidak memadai, persoalan kecil dapat berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Karena itu, kebutuhan peningkatan kapasitas tampungan air di PT NJP patut menjadi catatan. Jika cadangan air saja masih perlu diperkuat, seberapa siap perusahaan menghadapi situasi ketika kebakaran benar-benar terjadi?

Pertanyaan itu penting karena pencegahan Karhutla tidak boleh berhenti pada sosialisasi, apel kesiapsiagaan, atau dokumentasi kegiatan.

Yang jauh lebih menentukan adalah ketersediaan peralatan, sumber air, personel terlatih, akses menuju lokasi, serta kecepatan respons ketika api pertama kali ditemukan.

Kegiatan di PT NJP diisi dengan sambutan, diskusi, foto bersama, dan ramah tamah. Seluruh rangkaian berlangsung aman dan lancar.

Namun, keselamatan lingkungan tidak ditentukan oleh lancarnya sebuah pertemuan.

Ukuran sebenarnya adalah apa yang terjadi ketika api muncul.

Jika kebutuhan tampungan air telah diidentifikasi, publik berhak menunggu tindak lanjutnya. Jangan sampai evaluasi hanya berhenti sebagai catatan rapat, sementara ketika musim kemarau semakin panjang, kesiapan di lapangan masih menyisakan lubang.

Karhutla tidak mengenal seremoni. Ia hanya mengenal kesiapan-atau kelengahan.*(tim)**

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *