Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

22 Ribu Masker Dibagikan BPM Kalbar: Saat Asap Menutup Langit, Warga Dipaksa Bertahan

Aksi itu berlangsung Kamis. Bagi BPM, masker menjadi bentuk perlindungan paling sederhana yang bisa diberikan ketika warga tetap harus keluar rumah dan menjalankan aktivitas di tengah kepungan asap.

Warga tidak semestinya terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang harus beradaptasi dengan asap. Ketika karhutla terjadi, masyarakat membutuhkan udara bersih, bukan sekadar masker untuk bertahan menghirup udara yang tercemar.

RESPONSIVEKALBAR.COM,PONTIANAK- Kabut asap kembali menjadi persoalan yang harus dihadapi warga Kalimantan Barat. Di tengah udara yang tercemar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Barisan Pemuda Melayu (BPM) Kalimantan Barat membagikan sekitar 22 ribu masker kepada masyarakat di Kota Pontianak.

Aksi itu berlangsung Kamis. Bagi BPM, masker menjadi bentuk perlindungan paling sederhana yang bisa diberikan ketika warga tetap harus keluar rumah dan menjalankan aktivitas di tengah kepungan asap.

Ketua Umum BPM Kalbar, Gusti Edy, mengatakan pembagian masker dilakukan bersama jajaran pengurus organisasi. Sejumlah unsur internal BPM ikut terlibat, mulai dari satgas, dewan pembina, dewan penasihat, dewan pakar hingga dewan kehormatan.

“Sore ini juga membagikan kurang lebih 22 ribu masker yang kami bagikan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat,” kata Gusti Edy.

Menurut Gusti, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk unsur kesehatan dan elemen lainnya di Kalimantan Barat.

Namun 22 ribu masker itu sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan asap bukan sekadar urusan pembagian alat pelindung pernapasan.

Masker hanya melindungi sebagian. Api harus dihentikan.

Warga tidak semestinya terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang harus beradaptasi dengan asap. Ketika karhutla terjadi, masyarakat membutuhkan udara bersih, bukan sekadar masker untuk bertahan menghirup udara yang tercemar.

Pembagian masker memang penting, terutama bagi warga yang harus bekerja dan beraktivitas di luar ruangan. Tetapi langkah tersebut tidak boleh menjadi pengganti penanganan akar persoalan karhutla.

Pencegahan kebakaran, pemadaman titik api, pengawasan wilayah rawan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, hingga perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan.

Sebab, setiap kali asap menyelimuti Pontianak dan wilayah lain di Kalimantan Barat, persoalannya bukan hanya soal jarak pandang atau terganggunya aktivitas warga. Ada kualitas udara yang dipertaruhkan dan ada masyarakat yang harus menanggung dampaknya.

Gusti Edy mengatakan pembagian masker merupakan bentuk kepedulian BPM terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pengurus dan pihak lain yang memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

“Terima kasih atas support pengurus Barisan Pemuda Melayu maupun yang mendukung kami yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu,” ujarnya.

Aksi BPM tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas masyarakat. Namun solidaritas tidak boleh berhenti pada pembagian masker.

Kabut asap adalah gejala. Karhutla adalah persoalannya.

Selama api masih menyala dan kebakaran terus berulang, masyarakat akan kembali membutuhkan masker pada musim berikutnya.

Pertanyaannya kemudian bukan berapa banyak masker yang dibagikan, melainkan mengapa masyarakat masih harus memakai masker untuk sekadar menghirup udara yang seharusnya menjadi hak dasar mereka?

Di titik inilah penanganan karhutla diuji: bukan hanya seberapa cepat masker dibagikan ketika asap datang, tetapi seberapa serius api dicegah agar tidak kembali menguasai ruang hidup masyarakat.*(red)**

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *