Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara Gelar Aksi di Yogyakarta, Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara menegaskan bahwa tujuh tuntutan tersebut merupakan bentuk desakan agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan karhutla

RESPONSIVE.KALBAR,COM,‎YOGYAKARTA – Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara menggelar aksi solidaritas di kawasan Tugu Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026), dengan mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sebagai bencana nasional.
‎
‎Aksi tersebut diikuti sekitar 100 mahasiswa asal Kalimantan yang sedang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
‎
‎Para mahasiswa mengawali aksi dengan longmarch dari Asrama Putra Kalimantan Tengah di Jalan Pakuningratan menuju kawasan Tugu Yogyakarta.
‎
‎Setidanya di lokasi, mereka menggelar orasi secara bergantian, mempersembahkan puisi, serta melakukan penggalangan dana untuk membantu masyarakat terdampak karhutla, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
‎
‎Melalui aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara menyuarakan sejumlah persoalan yang mereka nilai membutuhkan perhatian serius pemerintah. Isu yang diangkat meliputi penanganan karhutla di Kalimantan, hak masyarakat adat dalam menjalankan tradisi berladang, hingga penolakan terhadap sosok yang mereka sebut sebagai panglima pencari sensasi.
‎
‎Salah seorang demonstran, Tengku Kahhar, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa Kalimantan di Yogyakarta terhadap kondisi tanah kelahiran mereka.
‎
‎”Melalui aksi ini kami sebagai mahasiswa Kalimantan di Yogyakarta masih ada, masih peduli pada tanah kelahiran kami, kami juga ingin mengingatkan kepada para warga di Yogyakarta bahwa Kalimantan masih menjadi bagian dari Indonesia meskipun dalam kasus karhutla ini sedang dianaktirikan oleh kekuasaan,” ujarnya.
‎
‎Menurutnya, aksi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla di Kalimantan perlu mendapatkan perhatian luas, termasuk dari pemerintah pusat dan masyarakat di luar Kalimantan.
‎
‎Mahasiswa juga menyoroti perjuangan masyarakat di daerah yang masih berjibaku memadamkan api di tengah berbagai keterbatasan. Mereka menilai kondisi di lapangan tidak selalu terlihat melalui pemberitaan maupun unggahan di media sosial.
‎
‎Demonstran lainnya, Ferdinan, menegaskan masyarakat Kalimantan tetap berupaya menghadapi karhutla yang meluas di sejumlah wilayah.
‎
‎”Tidak benar jika orang Kalimantan hanya berdiam saja atas situasi Karhutla, karena didaerah asal saya (Kaltim) warga masih berjibaku dan bahu-membahu bersama memadamkan api yang meluas, namun tidak ada waktu untuk upload story WA ataupun status di media sosial karena keterbatasan sinyal maupun listrik,” katanya.
‎
‎Setelah sekitar tiga jam menggelar aksi di kawasan Tugu Yogyakarta, Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah.
‎
‎Tujuh tuntutan tersebut dibacakan oleh Tovan, Chandra, dan Tengku Kahhar yang mewakili aliansi.
‎
‎Adapun tuntutan pertama ialah menetapkan karhutla di Kalimantan sebagai bencana nasional. Kedua, meminta pemerintah segera menangani pemadaman api secara serius.
‎
‎Ketiga, menegaskan bahwa peladang bukan penjahat. Keempat, mendesak penindakan terhadap korporasi pembakar lahan serta perwujudan keadilan ekologis.
‎
‎Kelima, menolak sosok yang mereka sebut sebagai panglima pencari sensasi. Keenam, meminta penghentian monopoli tanah melalui skema Penertiban Kawasan Hutan (PKH).
‎
‎Sementara tuntutan ketujuh ialah mengembalikan kedaulatan daerah atas wilayah, bumi, air, dan sumber daya alam.
‎
‎Aliansi Mahasiswa Kalimantan Membara menegaskan bahwa tujuh tuntutan tersebut merupakan bentuk desakan agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan karhutla dan berbagai isu yang berkaitan dengan masyarakat Kalimantan.*(sn/ev/mf)**
‎
Sumber : aliansi Mahasiswa kalimantan 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *