RESPONSIVE.KALBAR.COM,SULUT-Sebuah video yang merekam percakapan antara seorang ibu dan anak perempuannya menjadi perhatian luas di media sosial. Rekaman yang diunggah akun @feytikawulusan memperlihatkan seorang anak menangis setelah mengaku menjadi sasaran ejekan karena kondisi ekonomi keluarganya.
Dalam video tersebut, anak itu tampak berusaha menahan tangis ketika menceritakan perlakuan teman-temannya. Ia mengaku kerap dipanggil “miskin”, sebuah ejekan yang membuatnya merasa malu dan terluka.
Alih-alih meluapkan kemarahan atau mendorong anaknya membalas perlakuan tersebut, sang ibu memilih memberi jawaban yang tenang. Ia meminta putrinya tidak mengukur harga diri dari harta yang dimiliki. Menurutnya, kemiskinan bukanlah aib, sementara merendahkan orang lain justru mencerminkan kemiskinan sikap.
Respons sederhana itu menjadi inti dari video yang kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial. Ribuan warganet menyebut pesan sang ibu sebagai pengingat bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah, terutama ketika anak menghadapi perundungan.
Kasus ini juga kembali membuka persoalan yang lebih besar, yakni praktik bullying berbasis kondisi ekonomi yang masih kerap terjadi di lingkungan pergaulan anak. Ejekan yang dianggap sepele dapat meninggalkan dampak psikologis yang serius, mulai dari hilangnya rasa percaya diri hingga trauma berkepanjangan.
Video tersebut memicu gelombang simpati. Banyak pengguna media sosial mengaku tersentuh oleh ketegaran sang ibu dalam mendampingi anaknya.Di tengah derasnya budaya saling menghakimi di ruang digital, sikap sang ibu dinilai menghadirkan pelajaran tentang empati, martabat, dan penghormatan terhadap sesama, tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Hingga kini, video itu terus dibagikan dan menjadi bahan diskusi publik mengenai pentingnya menghentikan perundungan terhadap anak serta menanamkan nilai saling menghargai sejak usia dini*(tim)***
sumber :@feytikawulusan






