Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Musisi Lokal Dikecilkan di Kayong Fest 2026, Panggung HUT Kayong Utara Dinilai Tak Lagi Milik Daerah Sendiri

Kekecewaan ini memperkuat kritik lama di kalangan pelaku seni Kayong Utara: bahwa agenda besar daerah kerap berubah menjadi panggung instan yang lebih mengutamakan nama luar ketimbang pembinaan ekosistem kreatif lokal

RESPONSIVE.KALBAR.COM,KAYONG UTARA- Kayong Fest 2026 yang digelar dalam rangka HUT Kabupaten Kayong Utara ke-19 dan Hari Bhayangkara ke-80 menuai kritik keras dari pelaku seni lokal.Di tengah panggung yang dirancang megah dan dipromosikan sebagai perayaan daerah, musisi setempat menilai festival itu justru memperlihatkan satu hal yang mereka sebut sebagai “ketidakberpihakan terang-terangan” terhadap talenta lokal.

Kritik paling keras datang dari Hendri Rimba, personel band Awan Senja asal Kecamatan Simpang Hilir. Ia menilai penyelenggaraan tahun ini kembali mengulang pola lama: panggung besar dikuasai penampil luar daerah, sementara musisi lokal hanya menjadi pelengkap-atau bahkan diabaikan.

“Ini bukan soal iri atau tidak. Ini soal logika sederhana: ini acara daerah, tapi musisi daerah justru tidak jadi prioritas,” kata Hendri.

Ia menyebut, kondisi tersebut membuat musisi lokal seperti tidak dianggap sebagai bagian dari ekosistem budaya di daerahnya sendiri. Padahal, menurutnya, banyak band lokal telah memiliki karya orisinal, basis pendengar, dan aktivitas bermusik yang konsisten.

“Kalau ukurannya kualitas, kami siap bersaing. Tapi kalau dari awal ruangnya sudah ditutup, ini bukan kompetisi-ini penghapusan pelan-pelan,” ujarnya.

Kekecewaan ini memperkuat kritik lama di kalangan pelaku seni Kayong Utara: bahwa agenda besar daerah kerap berubah menjadi panggung instan yang lebih mengutamakan nama luar ketimbang pembinaan ekosistem kreatif lokal. Festival yang seharusnya menjadi ruang afirmasi budaya daerah justru dinilai bergeser menjadi ajang hiburan seremonial.

Sejumlah pelaku seni bahkan menyebut situasi ini sebagai bentuk “ketidakadilan struktural kecil” dalam kebijakan kebudayaan daerah-ketika musisi lokal hanya dilibatkan sebatas simbol, bukan subjek utama perayaan.

Di lapangan, keluhan serupa terus berulang: minimnya slot penampil lokal, tidak adanya kurasi terbuka, serta keputusan line-up yang dinilai tidak transparan. Kondisi itu membuat banyak musisi muda mulai mempertanyakan masa depan ruang kreatif mereka di daerah sendiri.

“Yang lebih menyakitkan bukan tidak diundang, tapi tidak dianggap ada,” ujar seorang musisi lokal lainnya yang meminta identitasnya tidak ditulis.

Di sisi lain, dominasi pengisi acara dari luar daerah kembali memunculkan pertanyaan soal orientasi penyelenggaraan festival: apakah benar untuk memperkuat identitas dan industri kreatif Kayong Utara, atau sekadar mengejar kemeriahan panggung yang siap pakai.

Hingga berita ini diturunkan, panitia Kayong Fest 2026 belum memberikan penjelasan resmi terkait dasar pemilihan pengisi acara maupun alasan minimnya pelibatan musisi lokal.

Di tengah gegap gempita panggung festival, satu kritik dari musisi lokal terdengar paling tajam: bahwa di tanah sendiri, mereka justru diperlakukan seperti penonton dari perayaan yang seharusnya mereka miliki.*(tim)**

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *