RESPONSIVEKALBAR.COM,KETAPANG-Pemandangan pasien berkerumun di loket pendaftaran perlahan mulai berubah di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Rumah sakit milik pemerintah daerah itu tengah mengubah pola pelayanan dari sistem yang sebelumnya masih setengah digital menjadi layanan yang terintegrasi melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).
Perubahan itu menyasar salah satu titik yang paling mudah dirasakan pasien: alur pendaftaran.
Direktur RSUD dr. Agoesdjam Ketapang, drg. Basaria Rajagukguk, mengatakan digitalisasi dilakukan agar proses pelayanan tidak lagi terlalu bergantung pada administrasi manual.
“Transformasi perubahan yang kita lakukan itu perubahan layanan yang tadinya setengah digital. Kalau setengah digital itu dia tidak komprehensif. Nah, menjadi layanan komprehensif, semuanya serba digitalisasi,” kata Basaria saat dikonfirmasi, Selasa, 6 Oktober 2026.
Dalam pola baru tersebut, pasien yang datang diarahkan menggunakan anjungan pendaftaran. Petugas tetap mendampingi pasien yang membutuhkan bantuan dalam mengoperasikan sistem.
Setelah proses pendaftaran selesai, pasien memperoleh kertas register yang memuat tujuan poli. Dari sana, pasien dapat langsung menuju poli yang dituju tanpa kembali mengantre di loket pendaftaran.
“Kalau untuk dalam sistem pelayanannya ini, dia lebih cepat mengurai pasien,” ujar Basaria.
Tak Lagi Bolak-balik Loket
Perubahan paling terasa adalah penyederhanaan alur.
Pasien yang hendak memeriksakan diri ke poli mata, misalnya, setelah menyelesaikan proses melalui anjungan dapat langsung menuju poli mata dan menunggu pelayanan di sana.
Rumah sakit juga menyediakan anjungan khusus bagi pasien baru yang belum memiliki data dalam sistem. Dengan begitu, proses pendataan pasien baru dapat dilakukan tanpa harus mengganggu alur pasien yang sudah terdaftar.
Digitalisasi juga tidak berarti seluruh pasien dipaksa mengikuti prosedur yang sama.
RSUD dr. Agoesdjam memberikan perhatian khusus kepada kelompok pasien yang membutuhkan pelayanan lebih cepat, antara lain anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, pasien dengan kondisi sakit berat, serta pengguna kursi roda.
“Jadi untuk pasien anak kecil, ibu hamil, orang tua, kemudian orang-orang yang sudah sakit-sakit parah, mungkin yang pakai kursi roda, itu menjadi pasien khusus. Pelayanan dia lebih cepat,” kata Basaria.
Dokter yang Bertugas Ditampilkan di Monitor
Transformasi digital juga merambah informasi pelayanan di setiap poli.
Rumah sakit memasang monitor yang menampilkan informasi dokter yang bertugas pada hari tersebut. Pasien tidak perlu lagi mencari informasi secara manual untuk mengetahui dokter yang memberikan pelayanan.
“Setiap masyarakat itu bisa melihat hari ini dokternya siapa. Yang mana sih dokternya? Nah, itu ada di poli-poli, ada monitor,” ujar Basaria.
Bagi rumah sakit, digitalisasi bukan semata memindahkan proses administrasi dari kertas ke layar. Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan tahapan pelayanan sejak pasien datang, melakukan pendaftaran, menuju poli, hingga memperoleh pelayanan.
Keluarga Pasien Merasakan Perubahan
Perubahan alur pelayanan itu juga dirasakan keluarga pasien.
Yuli, 42 tahun, warga Kayong Utara, mengatakan pelayanan yang sebelumnya identik dengan proses manual kini terasa lebih mudah dan cepat. Ia juga menyebut proses pengambilan obat berjalan lancar.
“Sejauh ini jadi lebih bagus. Untuk pelayanan dari manual ke digital juga membuat lebih mudah dan cepat. Untuk pengambilan obat juga lancar, cepat juga,” kata Yuli.
Yuli saat itu mendampingi orang tuanya yang dirujuk dari RSUD Sultan Muhammad Jamaludin, Kayong Utara, ke RSUD dr. Agoesdjam Ketapang.
Menurut dia, rujukan dilakukan karena keterbatasan peralatan di rumah sakit asal. Keluarganya telah sekitar dua hari menjalani penanganan lanjutan di RSUD dr. Agoesdjam.
“Kami dari Kayong Utara, bawa orang tua rujukan dari RSUD Sultan Muhammad Jamaludin ke sini, karena di sana keterbatasan alat. Mungkin akhirnya dirujuk ke sini karena di sini alatnya juga sudah lengkap,” ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Siti, 19 tahun, warga Kecamatan Kendawangan, Ketapang. Ia telah sekitar lima hari mendampingi keluarganya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Sejauh ini, Siti mengaku belum menemukan kendala berarti dalam proses pelayanan, termasuk pemberian obat.
“Sudah sekitar lima hari di sini, sejauh ini belum ada kendala. Dari pelayanan sampai obat juga bagus,” katanya.
Ia juga menilai sikap tenaga kesehatan turut membuat keluarga pasien merasa lebih nyaman.
“Selama di sini juga perawatnya ramah-ramah, enggak ada yang judes-judes,” ujar Siti.
Digitalisasi Bukan Sekadar Soal Antrean
Penerapan SIMRS di RSUD dr. Agoesdjam menunjukkan perubahan pola pelayanan dari administrasi yang sebelumnya masih terpisah-pisah menuju sistem yang lebih terintegrasi.
Namun, ukuran keberhasilannya pada akhirnya bukan hanya seberapa cepat pasien melewati loket pendaftaran.
Yang lebih penting adalah apakah digitalisasi benar-benar membuat seluruh rangkaian pelayanan menjadi lebih sederhana, transparan, mudah diakses, dan tidak menyulitkan pasien yang belum terbiasa dengan teknologi.
Untuk rumah sakit, tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan anjungan dan monitor informasi. Sistem tersebut harus mampu memastikan pasien mendapatkan pelayanan yang cepat tanpa kehilangan sisi manusiawi dalam pelayanan kesehatan.
Di titik itulah transformasi digital RSUD dr. Agoesdjam akan diuji: bukan hanya dari layar yang menyala, tetapi dari pengalaman pasien ketika datang hingga meninggalkan rumah sakit*(sn/fa/mn)






