Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

SUDAH ADA CCTV, KOK KECOLOLONGAN? Masyarakat:Jangan ada lagi SPBU nakal

Menurutnya, rekaman CCTV seharusnya tidak hanya dibuka ketika terjadi persoalan yang sudah viral atau setelah diberitakan media massa. Sebaliknya, rekaman tersebut perlu menjadi bahan evaluasi rutin oleh pengelola SPBU agar potensi pelanggaran dapat dicegah sejak dini.

Masyarakat juga berharap pihak pengelola SPBU maupun instansi yang berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan yang selama ini diterapkan.

RESPONSIVE.KALBAR.COM, KETAPANG-Keberadaan kamera pengawas (CCTV) di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kembali menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, meski sistem pengawasan elektronik telah dipasang, berbagai pemberitaan mengenai dugaan pelanggaran di sejumlah SPBU masih terus bermunculan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat mengenai efektivitas sistem pengawasan internal di SPBU. Jika setiap aktivitas terekam kamera selama 24 jam, mengapa dugaan pelanggaran masih bisa terjadi tanpa terdeteksi lebih awal?

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan kritik tajam terhadap lemahnya fungsi kontrol tersebut.

“Sudah ada CCTV, kok masih kecolongan? Kalau semua aktivitas direkam, seharusnya pengawas bisa mengetahui lebih cepat apabila ada tindakan yang diduga tidak sesuai prosedur. Jangan sampai CCTV hanya menjadi pajangan yang dipasang untuk memenuhi standar administrasi, tetapi tidak benar-benar dimanfaatkan sebagai alat pengawasan,” ujarnya.

Menurutnya, rekaman CCTV seharusnya tidak hanya dibuka ketika terjadi persoalan yang sudah viral atau setelah diberitakan media massa. Sebaliknya, rekaman tersebut perlu menjadi bahan evaluasi rutin oleh pengelola SPBU agar potensi pelanggaran dapat dicegah sejak dini.

Ia menilai, lemahnya fungsi pengawasan justru berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan SPBU.

“Teknologi sudah tersedia, tinggal bagaimana komitmen pengawasan dijalankan. Kalau rekaman CCTV tidak pernah dievaluasi secara berkala, maka tujuan pemasangannya patut dipertanyakan. Masyarakat tentu berharap CCTV benar-benar menjadi alat kontrol, bukan sekadar pelengkap fasilitas,” tambahnya.

Masyarakat juga berharap pihak pengelola SPBU maupun instansi yang berwenang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan yang selama ini diterapkan. Pengawasan yang baik, menurut mereka, bukan hanya mampu mengungkap dugaan pelanggaran setelah terjadi, tetapi juga mampu mencegah pelanggaran sebelum merugikan masyarakat.

“Kepercayaan publik dibangun melalui pengawasan yang konsisten. Jangan sampai masyarakat terus bertanya, sudah ada CCTV, kok masih kecolongan?” tutupnya.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan kritik masyarakat terhadap efektivitas sistem pengawasan di SPBU secara umum dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap SPBU tertentu. Kritik ini diharapkan menjadi masukan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pengawasan dalam pelayanan kepada masyarakat.*(Ss/jm/tim)**

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *