RESPONSIVEKALBAR.COM,PONTIANAK-Kabut asap kembali menyelimuti Kalimantan Barat. Di tengah musim kemarau 2026, kebakaran hutan dan lahan muncul di sejumlah wilayah. Lahan gambut yang mengering menjadi salah satu titik rawan yang membuat api lebih sulit dikendalikan.
Masalahnya bukan semata soal api yang muncul di lapangan. Kabut asap adalah ujung dari rangkaian persoalan yang berulang setiap musim kemarau: lahan mengering, api muncul, kebakaran meluas, lalu masyarakat berhadapan dengan asap.
Pada 19 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan mencatat 259 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat. Sehari berikutnya jumlah itu turun menjadi 82 titik. Angka tersebut memang tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran, tetapi cukup menunjukkan bahwa tekanan karhutla masih tinggi.
Kondisi di lapangan menjadi lebih mengkhawatirkan ketika kebakaran memasuki kawasan gambut. Api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar. Bara dapat bergerak dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga pemadaman menjadi lebih sulit dan asap dapat bertahan lebih lama.
Di sejumlah wilayah, persoalannya kemudian bergeser dari kebakaran menjadi gangguan terhadap kehidupan sehari-hari. Jarak pandang menurun, aktivitas masyarakat terganggu, dan kualitas udara menjadi perhatian.
Pertanyaan yang lebih besar adalah mengapa persoalan yang sama terus berulang.
Setiap kemarau, pemerintah meningkatkan patroli, pemadaman, bahkan mengerahkan dukungan udara dan operasi modifikasi cuaca. Namun, selama lahan terus berada dalam kondisi rentan terbakar, persoalan karhutla akan selalu menunggu musim kering berikutnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak semestinya hanya dilihat dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan. Yang lebih penting adalah seberapa jauh kebakaran dapat dicegah sejak awal, bagaimana kawasan gambut dilindungi, dan apakah sumber-sumber api benar-benar dapat ditelusuri serta ditangani secara transparan.
Kemarau 2026 kembali memberikan peringatan. Kalimantan Barat tidak boleh hanya sibuk memadamkan api ketika asap sudah memenuhi udara.
Sebab ketika asap sudah terlihat dari langit, persoalannya sesungguhnya sudah terlambat untuk disebut sekadar kebakaran.
Hutan telah terbakar. Gambut telah terluka. Dan masyarakat kembali menghirup asap dari bencana yang terus berulang.*(*)**






