RESPONSIVEKALBAR.COM, KETAPANG-Kemarau panjang yang masih melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tak hanya menyisakan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap. Kondisi ini juga menambah tantangan bagi pelaku usaha lokal, termasuk pengusaha amplang yang menghadapi kenaikan harga bahan baku dan kesulitan memperoleh ikan.
Hero, pemilik usaha Amplang BG Hero di Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong, mengatakan harga ikan yang menjadi bahan baku utama amplang mengalami kenaikan cukup signifikan. Dari sebelumnya Rp55 ribu, kini harganya mencapai Rp70 ribu per kilogram.
Kenaikan tersebut turut dirasakan pada sejumlah bahan pendukung produksi, seperti plastik kemasan dan tepung kanji.
“Untuk musim kayak gini, memang agak sulit dapat bahan baku. Seperti ikan itu biasanya Rp55 ribu, sekarang Rp70 ribu. Plastik naik, tepung kanji juga naik,” ujar Hero saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Oktober 2026.
Kelangkaan Solar dan Tantangan Nelayan
Di tengah kenaikan harga bahan baku, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar juga menjadi persoalan yang dikeluhkan karena nelayan mengalami kesulitan untuk melaut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi usaha pengolahan hasil perikanan. Ketika pasokan ikan sulit diperoleh dan harga bahan baku meningkat, biaya produksi pengusaha amplang ikut tertekan.
Namun, penyebab dan sejauh mana kelangkaan Solar memengaruhi aktivitas melaut serta pasokan ikan di Ketapang masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak terkait.
Harga Jual Dipertahankan Rp150 Ribu per Kilogram
Meski biaya produksi meningkat, Hero mengaku masih mempertahankan harga jual amplang sebesar Rp150 ribu per kilogram.
Keputusan itu diambil di tengah kondisi harga bahan baku yang terus meningkat. Menurut dia, sejumlah penjual amplang lainnya telah menaikkan harga sekitar Rp10 ribu.
“Untuk harga saya masih jual harga normal, satu kilogramnya itu Rp150 ribu. Tapi kalau tempat lain rata-rata naik Rp10 ribu,” katanya.
Bagi pelaku usaha, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli konsumen. Jika harga jual dinaikkan, konsumen berpotensi ikut menanggung dampaknya. Sebaliknya, mempertahankan harga berarti pengusaha harus memperhitungkan kembali biaya yang semakin besar.
Penjualan Masih Berjalan Normal
Kendati menghadapi kenaikan harga bahan baku, Hero mengatakan penjualan amplang miliknya sejauh ini masih berjalan normal. Ia belum merasakan kendala berarti dalam memasarkan produk.
“Kalau untuk penjualan masih berjalan normal, masih kayak biasa, tidak ada kendala,” tuturnya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa, setidaknya bagi usaha Amplang BG Hero, kenaikan biaya produksi belum diikuti penurunan penjualan yang dirasakan secara langsung.
Meski demikian, perkembangan harga ikan, ketersediaan bahan baku, dan biaya produksi tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan apabila kondisi kemarau dan kesulitan pasokan terus berlangsung.
Bagi pengusaha amplang, persoalannya bukan semata-mata mempertahankan harga jual. Ketersediaan ikan dengan harga yang terjangkau juga menentukan keberlangsungan produksi dan kemampuan usaha lokal untuk tetap memenuhi permintaan konsumen.
Hingga kini, dampak lebih luas dari keluhan kelangkaan Solar terhadap aktivitas nelayan dan pasokan ikan di Kabupaten Ketapang masih memerlukan penjelasan dari instansi terkait maupun pihak yang menangani distribusi BBM*(ssn/tim.)**






