Responsivekalbar – Kota Pontianak merupakan peradaban baru yang tidak lepas dari sejarah, di mana sebuah wilayah tadinya hutan belantara menjadi pusat Kota.
Serjarah ini tidak terlepas dari peranan seorang Pangeran Raja muda yang jenius, bernama Syarif Abdurrahman atau dikenal sebagai Sultan Abdurrahman.
Cerita ini bermulai sejak Sultan Abdurrahman menginjakkan kakinya di Pontianak pada tanggal 4 bulan Rahmadhan 1185 H (1771M).
Sultan Abdurrahman bin Habib Husin adalah putra asli Kalimantan kelahiran Matan dari ibunya Kerajaan Matan dan istrinya dari Keturunan Raja Bugis Mempawah dari Kerajaan Banjar.
Pangeran Wiranata Kusuma Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Syarif Usmulyani Alqadrie menceritakan alasan Sultan Abdurrahman berketetapan memilih Pontianak, daerah delta sungai kapuas dan Landak.
“Karena Beliau melihat letak strategisnya sebagai daerah yang nantinya akan berkembang pesat,” kata Syarif Usmulyani Alqadrie, Minggu (15/10/2023).
Ia mengungkapkan, Pontianak sangat cocok dengan ramainya lalu lintas dari pedalaman dan perdagangan antar pulau yang ada di Nusantara-Malaka dan Antar Negara.
“Daerah ini sangat strategis dibangun untuk dijadikan sebagai Pusat Peradaban Budaya Islam dan pusat kesultanan di pantai Barat Kalimantan,” ungkap Usmulyani.
Oleh sebab itu, maka Sultan Abdurrahman memutuskan untuk membangun pusat pemerintahan yaitu kesultanan.
Usmulyani menjelaskan, bahwa hasil pemikiran jenius dari Sultan Abdurrahman muda yang kaya akan pengalaman berketetapan menjadikan Pontianak sebagai pusat perdagangan dan pusat kekuasaan.
“Beliau sudah berlayar ke berbagai Negeri di Sumatera, Malaka, Banjar, Kerajaan Pasir,” sambungnya.
Selanjutnya, Sultan Abdurrahman percaya dengan pergaulannya dalam berinteraksi dengan pedagang dari Cina, Perancis, Inggris, Spanyol, maupun Belanda dapat menyaingi kerajaan yang sudah ada maupun dominasi dari kekuaasaan.
Sejak saat itu, Sultan Abdurrahman mulai bertekad memperkuat sejumlah perahu dagangannya.
Hal ini dilakukan untuk berlayar ke negeri Siak, Riau, Malaka, Siantan, Jambi, Palembang, Bangka dan Belitung serta negeri di pantai Barat pedalaman Kalimantan
Akibatnya, mulailah sejumlah perahu dan kapal melakukan bongkar muat barang-barang di Pontianak dari hasil bumi yang ada.
Karena, dengan kekuatan perahu layar yang besar dan dilengkapi persenjataan milik Sultan Abdurrahman membuat para pedagang merasa aman berdagang di Pontianak.
Oleh sebab itu, para lanon perompak bajak laut merasa gentar dengan kekuatan armada laut yang dimiliki Sultan Abdurrahman.
“Sejak saat itu tersebarlah berita tersebut hingga pelosok negeri,” ujar Usmulyani.
Selanjutnya, mulailah Sultan Abdurrahman mengembangkan kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan disekitarnya.
Dengan begitu Sultan Abdurrahman dapat menunjukkan eksistensi sebagai Kerajaan Baru yang patut untuk disegani oleh kawan maupun lawan.
Oleh karena itu, Usmulyani mengungkapkan, bahwa Sultan Abdurrahman telah membuktikan kepada sejarah dengan memberikan pondasi bahwa sejak dulu Pontianak sudah dikenal Dunia.
“Selain sebagai pusat kekuasaan juga sebagai pusat perdagangan dan Pusat Peradaban Budaya Islam,” pungkasnya. (#***G)











