RESPONSIVE.KALBAR.COM,KETAPANG- Sistem barcode BBM subsidi yang selama ini digembar-gemborkan Pertamina sebagai benteng pengawasan distribusi energi bersubsidi kembali dipertanyakan. Video dugaan pemindahan BBM subsidi menggunakan truk tangki bertuliskan Patra Niaga di SPBU 6478816 Sungai Laur, Ketapang, Kalimantan Barat, memantik kemarahan publik.
Ironinya, di saat masyarakat kecil harus antre, dibatasi kuota, hingga dipaksa mendaftarkan kendaraan demi memperoleh QR Code Subsidi Tepat, dugaan praktik “sulap” BBM subsidi justru disebut melibatkan kendaraan operasional resmi.
Ketua LSM Tindak Indonesia, Supriyadi, menilai kasus itu memperlihatkan bahwa sistem barcode hanya keras terhadap rakyat kecil, tetapi tumpul menghadapi mafia BBM.
“Rakyat dipersulit dengan barcode, kuota, dan aturan berlapis. Tapi ketika mafia bermain, pagar sistem Pertamina seperti tidak ada gunanya,” kata Supriyadi kepada wartawan, Senin, 26 Mei 2026.
Menurut dia, video viral yang beredar memperlihatkan dugaan pemindahan BBM subsidi dari truk tangki merah putih milik Pertamina Patra Niaga ke kendaraan lain berwarna biru putih. Praktik itu diduga bertujuan mengubah BBM subsidi menjadi non-subsidi demi keuntungan lebih besar.
Bila dugaan tersebut benar, kata dia, maka yang jebol bukan hanya pengawasan SPBU, tetapi juga integritas sistem distribusi BBM nasional.
Selama ini, Pertamina berulang kali mengklaim sistem QR Code Subsidi Tepat mampu memastikan subsidi energi tepat sasaran. Kendaraan tanpa barcode bahkan bisa ditolak membeli Pertalite maupun Solar subsidi di SPBU tertentu.

Namun kasus di Sungai Laur justru memunculkan pertanyaan baru: apakah teknologi barcode memang dirancang untuk menutup kebocoran subsidi, atau hanya menjadi alat pembatas konsumsi masyarakat?
“Barcode ternyata hanya efektif untuk membatasi rakyat, bukan menghentikan mafia BBM,” ujar Supriyadi.
Ia mendesak Mabes Polri, Kejaksaan Agung, dan Kementerian BUMN turun tangan mengusut dugaan permainan BBM subsidi tersebut. Menurut dia, penyelidikan tidak boleh berhenti pada operator lapangan atau sopir tangki semata.
“Harus dibuka siapa pemain besarnya. Karena mustahil praktik seperti ini berjalan tanpa jaringan,” katanya.
Kasus dugaan Penyelewengan BBM subsidi bukan pertama kali mencuat di Kalimantan Barat. Wilayah dengan jalur distribusi panjang dan pengawasan terbatas kerap menjadi titik rawan penyimpangan Solar subsidi.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina Patra Niaga maupun pengelola SPBU 6478816 Sungai Laur belum memberikan penjelasan resmi terkait video yang beredar*(tim)**
Sumber :vidio viral di group whatsap /Supriyadi.






