RESPONSIVEKALBAR.COM, PONTIANAK-Kemenangan dalam Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemirama) bukan garis akhir perjuangan. Justru setelah kursi kepemimpinan diraih, tanggung jawab sesungguhnya dimulai. Inilah pesan yang dibawa Ferdi Almaizi dan Sulis Tiyawati setelah terpilih memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas OSO.
Ferdi resmi terpilih sebagai Presiden Mahasiswa Universitas OSO, berpasangan dengan Sulis Tiyawati sebagai Wakil Presiden Mahasiswa. Keduanya memperoleh mandat melalui Pemirama yang digelar pada 2 November 2026.
Kemenangan tersebut sekaligus membuka tantangan baru bagi kepemimpinan BEM Universitas OSO. Bukan sekadar menjalankan organisasi kemahasiswaan, tetapi membuktikan sejauh mana BEM mampu menjadi wadah aspirasi, menjaga demokrasi kampus, dan mengambil sikap terhadap persoalan masyarakat.
Ferdi menegaskan, kemenangan dalam kontestasi mahasiswa tidak boleh membuat organisasi kehilangan arah perjuangan.
“Bagi kami, Pemirama bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang sesungguhnya. BEM Universitas OSO harus mampu menjadi ruang perjuangan mahasiswa, sekaligus garda depan dalam mengawal aspirasi masyarakat,” ungkap Ferdi.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa kepemimpinan baru BEM tidak ingin berhenti pada agenda seremonial dan rutinitas organisasi. Mahasiswa, menurut Ferdi, harus tetap memiliki keberanian untuk membaca persoalan sosial, menyampaikan kritik, dan mengawasi kebijakan publik.
Mahasiswa Jangan Kehilangan Daya Kritis
Ferdi mengingatkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan bangsa.
Terlebih ketika kebijakan publik dinilai tidak sejalan dengan kepentingan masyarakat. Dalam situasi seperti itu, mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menghadirkan kontrol sosial melalui pemikiran kritis dan argumentasi yang bertanggung jawab.
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membaca realitas, menyuarakan kebenaran, serta mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat. Kritik harus dibangun dengan gagasan, keberanian, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Namun, keberanian menyampaikan kritik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan organisasi mahasiswa. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap aspirasi memiliki ruang perjuangan dan tidak berhenti sebagai slogan.
Demokrasi Kampus dan Ujian Kepemimpinan
Di lingkungan internal kampus, Ferdi juga menyatakan komitmennya membangun hubungan terbuka dan kolaboratif dengan seluruh elemen Universitas OSO.
Baginya, hubungan mahasiswa dengan pihak universitas perlu dibangun melalui komunikasi yang sehat, tanpa menghilangkan fungsi kritis organisasi mahasiswa.
Kolaborasi, kata dia, menjadi fondasi untuk menciptakan lingkungan akademik yang demokratis, progresif, dan berkemajuan.
Di sinilah kepemimpinan Ferdi dan Sulis akan diuji. Mampukah BEM menjadi jembatan aspirasi mahasiswa sekaligus tetap independen dalam menjalankan fungsi kontrol? Mampukah janji mengawal kepentingan rakyat diterjemahkan menjadi gerakan nyata?
Publik kampus tentu menunggu lebih dari sekadar pernyataan politik setelah kemenangan Pemirama. Konsistensi, keberanian bersikap, serta kemampuan memperjuangkan kepentingan mahasiswa akan menjadi ukuran penting kepemimpinan mereka.
Ferdi Almaizi dan Sulis Tiyawati kini memikul amanah baru. Tantangannya bukan hanya merawat persatuan mahasiswa, tetapi juga memastikan suara mahasiswa tidak kehilangan tempat dalam ruang demokrasi.
Selamat mengemban amanah. Sebab mahasiswa tidak cukup hanya lantang berbicara tentang perubahan. Mereka juga harus berani mengawal dan memperjuangkannya.*(Sn/if/fi)**






