RESPONSIVE.KALBAR.COM,KETAPANG-Â Api kembali menguji pertahanan kawasan korporasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.”Pada Sabtu, 19 September 2026, kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan High Conservation Value (HCV) yang disebut memiliki luas 1.323 hektare di Dusun 2, Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara.
Kobaran api tidak hanya menjadi ancaman bagi kawasan bernilai konservasi. Api juga dilaporkan menjalar ke areal korporasi yang luasnya lebih dari 10 ribu hektare.
Di lokasi, petugas harus berhadapan dengan kondisi yang tidak bersahabat: panas, angin kencang, vegetasi kering dan keterbatasan sumber air.
Foto-foto dari lokasi memperlihatkan petugas berjibaku melakukan pemadaman di tengah kawasan yang dipenuhi pepohonan dan vegetasi yang telah terbakar. Asap masih mengepul ketika selang diarahkan ke titik-titik yang diduga menyimpan bara.
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama mengatakan, hasil pengecekan awal menunjukkan api diduga berasal dari area yang sebelumnya telah terbakar.”Tiupan angin kencang kemudian membuat kondisi semakin sulit dikendalikan. Vegetasi yang kering menjadi bahan bakar yang memungkinkan api kembali bergerak.”Keterangan tersebut menjadi titik penting dalam penanganan kasus ini,Namun sekaligus membuka pertanyaan:
Mengapa area yang sebelumnya terbakar kembali menjadi sumber api?
Kapan kebakaran pertama terjadi”Apakah seluruh titik sebelumnya telah benar-benar dipadamkan?Apakah sudah dilakukan groundcheck dan pendinginan”,Dan apakah ada bara yang luput dari pemantauan?
Pertanyaan itu penting karena pemadaman karhutla tidak berhenti ketika kobaran api terlihat padam. Bara yang tersisa di bawah permukaan dapat kembali menyala ketika terkena angin dan kondisi lahan yang kering.
HCV terbakar, sistem pencegahan perlu diperiksa
Kawasan HCV memiliki nilai konservasi tinggi. Karena itu, kebakaran di kawasan tersebut tidak cukup hanya dihitung dari jumlah hektare yang terdampak.”Yang perlu diperiksa adalah mengapa kebakaran dapat terjadi dan bagaimana sistem pencegahannya bekerja sebelum api membesar.

Foto :Petugas menyemprotkan air ke titik-titik yang masih berpotensi menyimpan bara untuk mencegah api kembali menyala.muncul lagi,pertanyaan ikut menyala.
Apakah sistem deteksi dini berjalan,”Seberapa rutin patroli dilakukan?”Bagaimana kondisi sumber air di dalam areal?”Apakah sarana dan prasarana pemadaman tersedia dalam jumlah memadai?
Dan ketika titik api pertama ditemukan, berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pemadaman dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menunjuk pihak tertentu sebagai penyebab kebakaran.
Jawabannya diperlukan untuk mengetahui apakah sistem pencegahan dan penanganan karhutla di kawasan tersebut berjalan sebagaimana mestinya.
Puluhan peralatan dikerahkan
Kapolres mengatakan pemadaman dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan unsur TNI, Polres Ketapang, personel BKO Brimob Polda Bali serta tim pemadam kebakaran perusahaan.
Operasi tersebut melibatkan Kabag Ops Polres Ketapang, Kapolsek Matan Hilir Utara bersama enam personel, Danramil Matan Hilir Utara beserta personel Yon TP, tiga personel BKO Brimob Polda Bali, serta tim Damkar perusahaan.
Sejumlah peralatan juga dikerahkan, antara lain:
- satu unit mobil Damkar PT KALE;
- dua mobil tangki PT KALE;
- satu mobil Damkar TNI;
- dua mesin Damkar Polsek Matan Hilir Utara;
- 40 gulung selang;
- lima nosel.
Namun tantangan di lapangan bukan hanya soal jumlah personel dan peralatan.
Sumber air menjadi persoalan.
Kapolres menyebut kondisi cuaca yang panas, angin kencang dan minimnya sumber air menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman.
Bukan sekadar memadamkan api
Vegetasi yang terbakar disebut meliputi pohon paku, dedaunan dan pepohonan. Kondisi lahan terdiri atas tanah mineral dengan lapisan gambut tipis.
Karena itu, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi setelah kobaran berhasil dikendalikan.
Groundcheck, pemadaman dan pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
“Setelah api berhasil dipadamkan, personel tidak langsung meninggalkan lokasi. Kami melakukan pendinginan dan memastikan kembali setiap titik yang berpotensi menyimpan bara api benar-benar padam,” ujar Putra.
Langkah tersebut penting karena angin masih cukup kencang.
Bara yang tampak kecil dapat kembali menyala.
Dan jika kembali bertemu vegetasi kering, kebakaran baru dapat muncul dari lokasi yang sebelumnya dianggap telah aman.
Yang perlu dicari bukan hanya api, tetapi sumber masalahnya
Kebakaran ini semestinya tidak berhenti pada laporan bahwa api telah berhasil dipadamkan.”Ada pekerjaan lain yang lebih penting:menelusuri penyebab, memetakan kawasan terdampak, dan memastikan sistem pencegahan berjalan.
Jika benar api berasal dari area yang sebelumnya terbakar, maka riwayat kebakaran di titik tersebut perlu diperiksa.”Begitu pula dengan pola penjalaran api.Dari mana api pertama kali muncul?Ke arah mana api bergerak?
Mengapa api dapat mencapai kawasan tertentu?Dan apakah terdapat aktivitas manusia atau faktor lain yang berkaitan dengan munculnya api?Semua pertanyaan itu membutuhkan pemeriksaan lapangan, bukan sekadar dugaan.
Lima pertanyaan yang belum selesai
1. Dari mana sebenarnya api pertama kali muncul?”Polisi menyebut api diduga berasal dari area yang sebelumnya terbakar. Penyebab kebakaran awal masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan.
2.Mengapa area yang sebelumnya terbakar kembali menjadi titik api?”Apakah masih terdapat bara, atau muncul sumber api baru?
3.Seberapa luas kawasan HCV yang benar-benar terbakar?”Angka 1.323 hektare perlu diperjelas melalui pengukuran atau verifikasi lapangan: apakah merupakan total luasan kawasan HCV atau luasan aktual yang terbakar.
4.Bagaimana kesiapsiagaan perusahaan sebelum kebakaran meluas?”Termasuk sistem deteksi dini, patroli, sumber air, personel, peralatan dan waktu respons pemadaman.
5. Apakah akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penyebab dan dampak kebakaran?”Termasuk asal api, pola penjalaran, kerusakan vegetasi, dampak terhadap kawasan bernilai konservasi serta kemungkinan adanya pelanggaran apabila ditemukan bukti.
Api boleh padam. Pertanyaan jangan.
Pemadaman adalah langkah pertama.”Setelah api padam, justru pekerjaan berikutnya dimulai.
Kawasan yang terbakar perlu dipetakan. Penyebab kebakaran perlu ditelusuri. Sistem pencegahan perlu dievaluasi. Dan bila pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran, tindak lanjut harus didasarkan pada bukti dan ketentuan hukum yang berlaku.
Sebab persoalan karhutla bukan hanya tentang siapa yang datang membawa selang ketika api sudah membesar.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:Mengapa api bisa muncul,”Mengapa kebakaran sebelumnya bisa kembali menjadi titik api”Seberapa cepat sistem deteksi bekerja?
Dan yang paling penting:Apakah sistem pencegahan sudah bekerja sebelum 1.323 hektare kawasan HCV berada di bawah ancaman api?
Jawaban atas pertanyaan itu yang kini diperlukan publik.:
Catatan redaksi: Dalam bahan awal terdapat penyebutan PT KAL/FR Group dan PT KALE/FR Group. Sebelum dipublikasikan, nama badan usaha sebaiknya diverifikasi dari sumber resmi agar tidak terjadi kekeliruan identitas perusahaan.*(tim)**






