Transformasi Berita Era Digital

Masa depan desa tidak boleh hanya bergantung pada Nasib harga sawit global.Diversifikasi ekonomi desa menjadi keniscayaan.

Oplus_131072

Responsivekalbar.com

Ketapang 

“Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Ketapang, Dewan Pakar Serikat Tani Nelayan (STN) Kabupaten Ketapang, Kepala Divisi Pendidikan & SDM DPD Persatuan Orang Melayu (POM) Ketapang

Kelapa sawit selama ini menjadi andalan perekonomian desa-desa di Kalimantan Barat. Bahkan, bagi banyak warga, sawit sudah seperti “emas hijau” yang menjanjikan kehidupan. Tapi, benarkah harapan itu benar-benar terwujud secara adil untuk semua?

Sebagai dosen, dan juga sebagai Dewan Pakar di Serikat Tani Nelayan Kabupaten Ketapang serta Kepala Divisi Pendidikan & SDM DPD Persatuan Orang Melayu Ketapang,saya sering mendengar langsung keluhan para petani dan warga desa. Masalahnya klasik, namun terus berulang. Ketidakjelasan kemitraan, rendahnya transparansi pembagian hasil, hingga dampak lingkungan yang mengancam kualitas hidup warga.

Foto ilustrasi strasi perkebunan sawit panen TBS di Indonesia di ambil dari google foto

Ironisnya, di tengah keuntungan besar yang diraup perusahaan besar, masyarakat desa justru kerap menjadi pihak yang paling rentan. Apalagi, ketika harga TBS (tandan buah segar) anjlok, atau ketika hasil panen petani tidak maksimal karena keterbatasan akses terhadap teknologi dan informasi.

Situasi ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah daerah dan pemerintah desa harus berani mengambil peran lebih besar. Jangan hanya menjadi penonton atau bahkan korban kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Perlu langkah konkret untuk memperkuat posisi tawar petani dan koperasi desa dalam kemitraan dengan perusahaan.

Selain itu, perguruan tinggi dan para akademisi juga harus turun gunung. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Pengetahuan teknik, misalnya, bisa dimanfaatkan untuk membantu petani meningkatkan efisiensi panen, mengelola limbah dengan bijak, bahkan menciptakan produk turunan sawit yang bernilai tambah tinggi.

Masa depan desa tidak boleh hanya bergantung pada nasib harga sawit global. Diversifikasi ekonomi desa menjadi keniscayaan. Pemerintah desa harus mulai merancang program-program pemberdayaan yang mengembangkan potensi lokal lainnya. Dengan begitu, desa menjadi lebih mandiri, tahan krisis, dan masyarakatnya sejahtera.

Sebagai dosen teknik, sebagai bagian dari Serikat Tani Nelayan, dan juga sebagai bagian dari masyarakat Melayu yang mencintai kemajuan daerah, saya percaya bahwa pembangunan desa harus memadukan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan keberanian mengambil sikap. Sawit memang penting, tapi desa yang berdaulat jauh lebih penting.(Bm/rds)

Sumber : Muhammad Jimi Rizaldi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *