RESPONSIVE.KALBAR.COM,KETAPANG –Empat pria korban insiden kebakaran kini terbaring di ruang perawatan intensif dengan kondisi yang mencemaskan. Dua di antaranya berada di ambang kritis setelah api melalap hampir seluruh tubuh mereka.
Dokter jaga IGD, dr. Yoga Rivalda, mengungkapkan kondisi para korban masih jauh dari kata aman. Seluruh pasien mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan berbeda.
Namun dua korban mengalami kondisi paling parah, dengan luka bakar mencapai 80 persen dan 76 persen dari total permukaan tubuh.
“Ada pasien dengan luka bakar hampir di seluruh tubuh. Yang paling luas mencapai 80 persen, kemudian 76 persen. Sisanya ada yang 43 persen dan 16 persen,” kata dr. Yoga.
Dua korban lainnya juga tak luput dari luka serius. Masing-masing mengalami luka bakar 43 persen dan 16 persen, dan kini masih dalam pengawasan ketat tim medis.
Menurut dr. Yoga, luka bakar bukan sekadar persoalan kulit yang mengelupas akibat panas. Di balik luka yang tampak, ancaman sebenarnya justru bisa jauh lebih mematikan.
Pada korban luka bakar berat, kata dia, tim medis tidak hanya berpacu menangani kerusakan jaringan tubuh, tetapi juga memburu kemungkinan komplikasi mematikan yang bisa datang dalam hitungan menit.
Salah satu ancaman paling berbahaya adalah gangguan saluran pernapasan akibat paparan panas dan asap.
“Pasien dengan luka bakar harus dievaluasi secara menyeluruh, termasuk kemungkinan trauma lain seperti pada saluran napas.
Terlebih jika wajah ikut terbakar, maka risiko trauma inhalasi juga perlu diwaspadai,” ujarnya.
Trauma inhalasi menjadi momok paling mengkhawatirkan dalam kasus seperti ini. Saat panas dan asap masuk ke saluran napas, korban bisa mengalami pembengkakan saluran pernapasan, sesak berat, hingga gagal napas yang berujung fatal.
Itulah sebabnya, penanganan korban luka bakar berat tidak hanya soal membalut luka, tetapi juga pertarungan sunyi melawan risiko kematian yang bisa datang kapan saja.
Hingga kini, tim medis masih berjibaku menyelamatkan keempat korban. Sementara dua pasien dengan luka bakar paling luas masih berada dalam kondisi kritis dan terus dipantau ketat dari menit ke menit.*(tim)**











